Transformasi Psikologis dan Pengembangan Karakter melalui Seni Peran
Transformasi Karakter Melalui Seni Peran
Di sebuah kota kecil yang dikelilingi perbukitan hijau, hiduplah seorang anak bernama Dimas. Secara kepribadian, ia dikenal sangat pemalu dan tidak percaya diri, sebuah kondisi yang membuatnya jarang berinteraksi secara verbal dengan teman sebaya. Keseharian Dimas hanya berkisar antara sekolah dan rumah, di mana ia lebih memilih mengurung diri di kamar untuk membaca buku dibandingkan bersosialisasi. Meskipun sang Ibu telah berulang kali memotivasi agar ia lebih terbuka, Dimas selalu merasa canggung karena bayang-bayang ketakutan akan ditertawakan oleh lingkungan sekitarnya.
Titik balik dimulai ketika guru Bahasa Indonesia memberikan penugasan proyek drama berdasarkan cerita rakyat. Sebagai langkah awal, Dimas mengambil peran di balik layar dengan menulis naskah cerita. Namun, sebuah kejadian tak terduga terjadi sehari sebelum pementasan; pemeran utama jatuh sakit. Mengingat hanya Dimas yang paling menguasai alur cerita, ia terpaksa diminta menggantikan posisi tersebut. Karena temannya sakit, Dimas pun dihadapkan pada tantangan yang selama ini ia hindari.
Menjelang waktu pertunjukan, Dimas merasa sangat gelisah dan hampir menyerah. Di saat kritis tersebut, ibunya memberikan wejangan inspiratif bahwa keberanian sejati adalah saat kita mampu mengalahkan rasa takut dalam diri sendiri. Berkat dukungan kolektif dari teman-temannya, Dimas akhirnya memberanikan diri tampil di atas panggung. Setelah tirai ditutup dan seluruh penonton memberikan apresiasi berupa tepuk tangan meriah, Dimas mengalami perubahan signifikan. Ia kini menjadi individu yang lebih asertif, aktif dalam diskusi kelas, dan memilih untuk menekuni minat barunya di ekstrakurikuler teater.