Menyimpan...
30:00
Soal 1/20
Bahasa Indonesia - Analisis Respons Emosional Dan Resiliensi Psikologis Dalam Narasi Fiksi
BACAAN / STIMULUS

Analisis Respons Emosional dan Resiliensi Psikologis dalam Narasi Fiksi

Malam itu hujan turun deras ketika Arya berjalan kaki pulang dari toko buku langganannya. Di tangan kirinya tergenggam buku berjudul “Langit di Ujung Senja” yang baru saja dibelinya, buku yang ia tunggu-tunggu sejak berbulan lalu. Setiap langkahnya menimbulkan cipratan kecil di genangan air. Jaketnya basah, tapi matanya tetap berbinar.

Sesampainya di rumah, Arya langsung mengelap bukunya dan menyalakan lampu kamar. Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding, lalu mulai membaca halaman pertama. Namun, tak lama kemudian ibunya masuk dengan raut wajah cemas. “Arya, besok ayahmu akan dibawa ke rumah sakit lagi,” katanya pelan. Arya menghentikan bacaannya, menatap ibunya, lalu mengangguk. Ia menyimpan bukunya dan memeluk ibunya diam-diam.

Keesokan harinya, Arya duduk di ruang tunggu rumah sakit. Di pangkuannya, buku “Langit di Ujung Senja” tetap tertutup. Ia melihat ayahnya dari balik kaca ruang perawatan intensif. Hatinya kacau. Ingin sekali ia menangis, tapi ia memilih untuk tenang. “Aku harus kuat, seperti tokoh dalam buku ini,” pikirnya. Buku yang belum sempat ia baca malah menjadi pengingat keteguhan.

Seminggu berlalu. Ayahnya mulai membaik. Arya akhirnya membuka kembali buku itu dan membacanya perlahan. Di tengah halaman, ia menemukan kutipan yang membuatnya terdiam: “Terkadang langit tampak gelap sebelum matahari benar-benar terbit.” Ia menutup buku itu sambil menatap keluar jendela. Di luar, senja mulai turun, dan langit tampak jingga. Ia tersenyum, seperti sedang mengerti sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Pertanyaan 1 ID: #201

Bagaimana perasaan Arya saat membeli buku “Langit di Ujung Senja”?

BACAAN / STIMULUS

Analisis Respons Emosional dan Resiliensi Psikologis dalam Narasi Fiksi

Malam itu hujan turun deras ketika Arya berjalan kaki pulang dari toko buku langganannya. Di tangan kirinya tergenggam buku berjudul “Langit di Ujung Senja” yang baru saja dibelinya, buku yang ia tunggu-tunggu sejak berbulan lalu. Setiap langkahnya menimbulkan cipratan kecil di genangan air. Jaketnya basah, tapi matanya tetap berbinar.

Sesampainya di rumah, Arya langsung mengelap bukunya dan menyalakan lampu kamar. Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding, lalu mulai membaca halaman pertama. Namun, tak lama kemudian ibunya masuk dengan raut wajah cemas. “Arya, besok ayahmu akan dibawa ke rumah sakit lagi,” katanya pelan. Arya menghentikan bacaannya, menatap ibunya, lalu mengangguk. Ia menyimpan bukunya dan memeluk ibunya diam-diam.

Keesokan harinya, Arya duduk di ruang tunggu rumah sakit. Di pangkuannya, buku “Langit di Ujung Senja” tetap tertutup. Ia melihat ayahnya dari balik kaca ruang perawatan intensif. Hatinya kacau. Ingin sekali ia menangis, tapi ia memilih untuk tenang. “Aku harus kuat, seperti tokoh dalam buku ini,” pikirnya. Buku yang belum sempat ia baca malah menjadi pengingat keteguhan.

Seminggu berlalu. Ayahnya mulai membaik. Arya akhirnya membuka kembali buku itu dan membacanya perlahan. Di tengah halaman, ia menemukan kutipan yang membuatnya terdiam: “Terkadang langit tampak gelap sebelum matahari benar-benar terbit.” Ia menutup buku itu sambil menatap keluar jendela. Di luar, senja mulai turun, dan langit tampak jingga. Ia tersenyum, seperti sedang mengerti sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Pertanyaan 2 ID: #202

Perubahan emosional apa yang dialami Arya saat ibunya menyampaikan kabar tentang ayahnya?

BACAAN / STIMULUS

Analisis Respons Emosional dan Resiliensi Psikologis dalam Narasi Fiksi

Malam itu hujan turun deras ketika Arya berjalan kaki pulang dari toko buku langganannya. Di tangan kirinya tergenggam buku berjudul “Langit di Ujung Senja” yang baru saja dibelinya, buku yang ia tunggu-tunggu sejak berbulan lalu. Setiap langkahnya menimbulkan cipratan kecil di genangan air. Jaketnya basah, tapi matanya tetap berbinar.

Sesampainya di rumah, Arya langsung mengelap bukunya dan menyalakan lampu kamar. Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding, lalu mulai membaca halaman pertama. Namun, tak lama kemudian ibunya masuk dengan raut wajah cemas. “Arya, besok ayahmu akan dibawa ke rumah sakit lagi,” katanya pelan. Arya menghentikan bacaannya, menatap ibunya, lalu mengangguk. Ia menyimpan bukunya dan memeluk ibunya diam-diam.

Keesokan harinya, Arya duduk di ruang tunggu rumah sakit. Di pangkuannya, buku “Langit di Ujung Senja” tetap tertutup. Ia melihat ayahnya dari balik kaca ruang perawatan intensif. Hatinya kacau. Ingin sekali ia menangis, tapi ia memilih untuk tenang. “Aku harus kuat, seperti tokoh dalam buku ini,” pikirnya. Buku yang belum sempat ia baca malah menjadi pengingat keteguhan.

Seminggu berlalu. Ayahnya mulai membaik. Arya akhirnya membuka kembali buku itu dan membacanya perlahan. Di tengah halaman, ia menemukan kutipan yang membuatnya terdiam: “Terkadang langit tampak gelap sebelum matahari benar-benar terbit.” Ia menutup buku itu sambil menatap keluar jendela. Di luar, senja mulai turun, dan langit tampak jingga. Ia tersenyum, seperti sedang mengerti sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Pertanyaan 3 ID: #203

Respon Arya ketika berada di ruang tunggu rumah sakit menunjukkan bahwa ia…

BACAAN / STIMULUS

Analisis Respons Emosional dan Resiliensi Psikologis dalam Narasi Fiksi

Malam itu hujan turun deras ketika Arya berjalan kaki pulang dari toko buku langganannya. Di tangan kirinya tergenggam buku berjudul “Langit di Ujung Senja” yang baru saja dibelinya, buku yang ia tunggu-tunggu sejak berbulan lalu. Setiap langkahnya menimbulkan cipratan kecil di genangan air. Jaketnya basah, tapi matanya tetap berbinar.

Sesampainya di rumah, Arya langsung mengelap bukunya dan menyalakan lampu kamar. Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding, lalu mulai membaca halaman pertama. Namun, tak lama kemudian ibunya masuk dengan raut wajah cemas. “Arya, besok ayahmu akan dibawa ke rumah sakit lagi,” katanya pelan. Arya menghentikan bacaannya, menatap ibunya, lalu mengangguk. Ia menyimpan bukunya dan memeluk ibunya diam-diam.

Keesokan harinya, Arya duduk di ruang tunggu rumah sakit. Di pangkuannya, buku “Langit di Ujung Senja” tetap tertutup. Ia melihat ayahnya dari balik kaca ruang perawatan intensif. Hatinya kacau. Ingin sekali ia menangis, tapi ia memilih untuk tenang. “Aku harus kuat, seperti tokoh dalam buku ini,” pikirnya. Buku yang belum sempat ia baca malah menjadi pengingat keteguhan.

Seminggu berlalu. Ayahnya mulai membaik. Arya akhirnya membuka kembali buku itu dan membacanya perlahan. Di tengah halaman, ia menemukan kutipan yang membuatnya terdiam: “Terkadang langit tampak gelap sebelum matahari benar-benar terbit.” Ia menutup buku itu sambil menatap keluar jendela. Di luar, senja mulai turun, dan langit tampak jingga. Ia tersenyum, seperti sedang mengerti sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Pertanyaan 4 ID: #204

Arya belum membuka bukunya selama di rumah sakit karena…

BACAAN / STIMULUS

Analisis Respons Emosional dan Resiliensi Psikologis dalam Narasi Fiksi

Malam itu hujan turun deras ketika Arya berjalan kaki pulang dari toko buku langganannya. Di tangan kirinya tergenggam buku berjudul “Langit di Ujung Senja” yang baru saja dibelinya, buku yang ia tunggu-tunggu sejak berbulan lalu. Setiap langkahnya menimbulkan cipratan kecil di genangan air. Jaketnya basah, tapi matanya tetap berbinar.

Sesampainya di rumah, Arya langsung mengelap bukunya dan menyalakan lampu kamar. Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding, lalu mulai membaca halaman pertama. Namun, tak lama kemudian ibunya masuk dengan raut wajah cemas. “Arya, besok ayahmu akan dibawa ke rumah sakit lagi,” katanya pelan. Arya menghentikan bacaannya, menatap ibunya, lalu mengangguk. Ia menyimpan bukunya dan memeluk ibunya diam-diam.

Keesokan harinya, Arya duduk di ruang tunggu rumah sakit. Di pangkuannya, buku “Langit di Ujung Senja” tetap tertutup. Ia melihat ayahnya dari balik kaca ruang perawatan intensif. Hatinya kacau. Ingin sekali ia menangis, tapi ia memilih untuk tenang. “Aku harus kuat, seperti tokoh dalam buku ini,” pikirnya. Buku yang belum sempat ia baca malah menjadi pengingat keteguhan.

Seminggu berlalu. Ayahnya mulai membaik. Arya akhirnya membuka kembali buku itu dan membacanya perlahan. Di tengah halaman, ia menemukan kutipan yang membuatnya terdiam: “Terkadang langit tampak gelap sebelum matahari benar-benar terbit.” Ia menutup buku itu sambil menatap keluar jendela. Di luar, senja mulai turun, dan langit tampak jingga. Ia tersenyum, seperti sedang mengerti sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Pertanyaan 5 ID: #205

Apa makna emosional yang ditangkap Arya dari kutipan dalam buku itu?

BACAAN / STIMULUS

Analisis Respons Emosional dan Resiliensi Psikologis dalam Narasi Fiksi

Malam itu hujan turun deras ketika Arya berjalan kaki pulang dari toko buku langganannya. Di tangan kirinya tergenggam buku berjudul “Langit di Ujung Senja” yang baru saja dibelinya, buku yang ia tunggu-tunggu sejak berbulan lalu. Setiap langkahnya menimbulkan cipratan kecil di genangan air. Jaketnya basah, tapi matanya tetap berbinar.

Sesampainya di rumah, Arya langsung mengelap bukunya dan menyalakan lampu kamar. Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding, lalu mulai membaca halaman pertama. Namun, tak lama kemudian ibunya masuk dengan raut wajah cemas. “Arya, besok ayahmu akan dibawa ke rumah sakit lagi,” katanya pelan. Arya menghentikan bacaannya, menatap ibunya, lalu mengangguk. Ia menyimpan bukunya dan memeluk ibunya diam-diam.

Keesokan harinya, Arya duduk di ruang tunggu rumah sakit. Di pangkuannya, buku “Langit di Ujung Senja” tetap tertutup. Ia melihat ayahnya dari balik kaca ruang perawatan intensif. Hatinya kacau. Ingin sekali ia menangis, tapi ia memilih untuk tenang. “Aku harus kuat, seperti tokoh dalam buku ini,” pikirnya. Buku yang belum sempat ia baca malah menjadi pengingat keteguhan.

Seminggu berlalu. Ayahnya mulai membaik. Arya akhirnya membuka kembali buku itu dan membacanya perlahan. Di tengah halaman, ia menemukan kutipan yang membuatnya terdiam: “Terkadang langit tampak gelap sebelum matahari benar-benar terbit.” Ia menutup buku itu sambil menatap keluar jendela. Di luar, senja mulai turun, dan langit tampak jingga. Ia tersenyum, seperti sedang mengerti sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Pertanyaan 6 ID: #206

Bagaimana sikap Arya mencerminkan ketegaran emosionalnya?

BACAAN / STIMULUS

Analisis Respons Emosional dan Resiliensi Psikologis dalam Narasi Fiksi

Malam itu hujan turun deras ketika Arya berjalan kaki pulang dari toko buku langganannya. Di tangan kirinya tergenggam buku berjudul “Langit di Ujung Senja” yang baru saja dibelinya, buku yang ia tunggu-tunggu sejak berbulan lalu. Setiap langkahnya menimbulkan cipratan kecil di genangan air. Jaketnya basah, tapi matanya tetap berbinar.

Sesampainya di rumah, Arya langsung mengelap bukunya dan menyalakan lampu kamar. Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding, lalu mulai membaca halaman pertama. Namun, tak lama kemudian ibunya masuk dengan raut wajah cemas. “Arya, besok ayahmu akan dibawa ke rumah sakit lagi,” katanya pelan. Arya menghentikan bacaannya, menatap ibunya, lalu mengangguk. Ia menyimpan bukunya dan memeluk ibunya diam-diam.

Keesokan harinya, Arya duduk di ruang tunggu rumah sakit. Di pangkuannya, buku “Langit di Ujung Senja” tetap tertutup. Ia melihat ayahnya dari balik kaca ruang perawatan intensif. Hatinya kacau. Ingin sekali ia menangis, tapi ia memilih untuk tenang. “Aku harus kuat, seperti tokoh dalam buku ini,” pikirnya. Buku yang belum sempat ia baca malah menjadi pengingat keteguhan.

Seminggu berlalu. Ayahnya mulai membaik. Arya akhirnya membuka kembali buku itu dan membacanya perlahan. Di tengah halaman, ia menemukan kutipan yang membuatnya terdiam: “Terkadang langit tampak gelap sebelum matahari benar-benar terbit.” Ia menutup buku itu sambil menatap keluar jendela. Di luar, senja mulai turun, dan langit tampak jingga. Ia tersenyum, seperti sedang mengerti sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Pertanyaan 7 ID: #207

Kapan Arya merasa “mengerti sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata”?

BACAAN / STIMULUS

Analisis Respons Emosional dan Resiliensi Psikologis dalam Narasi Fiksi

Malam itu hujan turun deras ketika Arya berjalan kaki pulang dari toko buku langganannya. Di tangan kirinya tergenggam buku berjudul “Langit di Ujung Senja” yang baru saja dibelinya, buku yang ia tunggu-tunggu sejak berbulan lalu. Setiap langkahnya menimbulkan cipratan kecil di genangan air. Jaketnya basah, tapi matanya tetap berbinar.

Sesampainya di rumah, Arya langsung mengelap bukunya dan menyalakan lampu kamar. Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding, lalu mulai membaca halaman pertama. Namun, tak lama kemudian ibunya masuk dengan raut wajah cemas. “Arya, besok ayahmu akan dibawa ke rumah sakit lagi,” katanya pelan. Arya menghentikan bacaannya, menatap ibunya, lalu mengangguk. Ia menyimpan bukunya dan memeluk ibunya diam-diam.

Keesokan harinya, Arya duduk di ruang tunggu rumah sakit. Di pangkuannya, buku “Langit di Ujung Senja” tetap tertutup. Ia melihat ayahnya dari balik kaca ruang perawatan intensif. Hatinya kacau. Ingin sekali ia menangis, tapi ia memilih untuk tenang. “Aku harus kuat, seperti tokoh dalam buku ini,” pikirnya. Buku yang belum sempat ia baca malah menjadi pengingat keteguhan.

Seminggu berlalu. Ayahnya mulai membaik. Arya akhirnya membuka kembali buku itu dan membacanya perlahan. Di tengah halaman, ia menemukan kutipan yang membuatnya terdiam: “Terkadang langit tampak gelap sebelum matahari benar-benar terbit.” Ia menutup buku itu sambil menatap keluar jendela. Di luar, senja mulai turun, dan langit tampak jingga. Ia tersenyum, seperti sedang mengerti sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Pertanyaan 8 ID: #208

Reaksi diam Arya saat mendengar kabar dari ibunya menunjukkan…

BACAAN / STIMULUS

Analisis Respons Emosional dan Resiliensi Psikologis dalam Narasi Fiksi

Malam itu hujan turun deras ketika Arya berjalan kaki pulang dari toko buku langganannya. Di tangan kirinya tergenggam buku berjudul “Langit di Ujung Senja” yang baru saja dibelinya, buku yang ia tunggu-tunggu sejak berbulan lalu. Setiap langkahnya menimbulkan cipratan kecil di genangan air. Jaketnya basah, tapi matanya tetap berbinar.

Sesampainya di rumah, Arya langsung mengelap bukunya dan menyalakan lampu kamar. Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding, lalu mulai membaca halaman pertama. Namun, tak lama kemudian ibunya masuk dengan raut wajah cemas. “Arya, besok ayahmu akan dibawa ke rumah sakit lagi,” katanya pelan. Arya menghentikan bacaannya, menatap ibunya, lalu mengangguk. Ia menyimpan bukunya dan memeluk ibunya diam-diam.

Keesokan harinya, Arya duduk di ruang tunggu rumah sakit. Di pangkuannya, buku “Langit di Ujung Senja” tetap tertutup. Ia melihat ayahnya dari balik kaca ruang perawatan intensif. Hatinya kacau. Ingin sekali ia menangis, tapi ia memilih untuk tenang. “Aku harus kuat, seperti tokoh dalam buku ini,” pikirnya. Buku yang belum sempat ia baca malah menjadi pengingat keteguhan.

Seminggu berlalu. Ayahnya mulai membaik. Arya akhirnya membuka kembali buku itu dan membacanya perlahan. Di tengah halaman, ia menemukan kutipan yang membuatnya terdiam: “Terkadang langit tampak gelap sebelum matahari benar-benar terbit.” Ia menutup buku itu sambil menatap keluar jendela. Di luar, senja mulai turun, dan langit tampak jingga. Ia tersenyum, seperti sedang mengerti sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Pertanyaan 9 ID: #209

Kalimat “Aku harus kuat, seperti tokoh dalam buku ini” mencerminkan…

BACAAN / STIMULUS

Analisis Respons Emosional dan Resiliensi Psikologis dalam Narasi Fiksi

Malam itu hujan turun deras ketika Arya berjalan kaki pulang dari toko buku langganannya. Di tangan kirinya tergenggam buku berjudul “Langit di Ujung Senja” yang baru saja dibelinya, buku yang ia tunggu-tunggu sejak berbulan lalu. Setiap langkahnya menimbulkan cipratan kecil di genangan air. Jaketnya basah, tapi matanya tetap berbinar.

Sesampainya di rumah, Arya langsung mengelap bukunya dan menyalakan lampu kamar. Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding, lalu mulai membaca halaman pertama. Namun, tak lama kemudian ibunya masuk dengan raut wajah cemas. “Arya, besok ayahmu akan dibawa ke rumah sakit lagi,” katanya pelan. Arya menghentikan bacaannya, menatap ibunya, lalu mengangguk. Ia menyimpan bukunya dan memeluk ibunya diam-diam.

Keesokan harinya, Arya duduk di ruang tunggu rumah sakit. Di pangkuannya, buku “Langit di Ujung Senja” tetap tertutup. Ia melihat ayahnya dari balik kaca ruang perawatan intensif. Hatinya kacau. Ingin sekali ia menangis, tapi ia memilih untuk tenang. “Aku harus kuat, seperti tokoh dalam buku ini,” pikirnya. Buku yang belum sempat ia baca malah menjadi pengingat keteguhan.

Seminggu berlalu. Ayahnya mulai membaik. Arya akhirnya membuka kembali buku itu dan membacanya perlahan. Di tengah halaman, ia menemukan kutipan yang membuatnya terdiam: “Terkadang langit tampak gelap sebelum matahari benar-benar terbit.” Ia menutup buku itu sambil menatap keluar jendela. Di luar, senja mulai turun, dan langit tampak jingga. Ia tersenyum, seperti sedang mengerti sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Pertanyaan 10 ID: #210

Respons emosional akhir Arya terhadap situasi yang dihadapinya ditunjukkan dengan…

Pertanyaan 11 ID: #1231

Bacalah teks berikut:

"Rani menatap hujan yang turun deras. Hatinya terasa sedih karena tidak bisa bermain di taman bersama teman-temannya."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut mengenai respons emosional Rani.

1. Rani merasa sedih karena tidak bisa bermain.

2. Rani menatap hujan dengan perasaan kecewa.

3. Rani merasa senang dan bersemangat.

Pertanyaan 12 ID: #1232

Bacalah teks berikut:

"Ali mendapat nilai tertinggi dalam ulangan matematika. Wajahnya berseri-seri dan ia melompat kegirangan."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Ali merasa gembira karena mendapatkan nilai tertinggi.

2. Ali menunjukkan respons emosional kegembiraan.

3. Ali merasa sedih dan kecewa.

Pertanyaan 13 ID: #1233

Bacalah teks berikut:

"Sari kehilangan boneka kesayangannya. Ia menangis tersedu-sedu sambil memeluk bantal di kamarnya."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Sari menangis karena kehilangan bonekanya.

2. Respons emosional Sari adalah kesedihan.

3. Sari merasa senang dan puas.

Pertanyaan 14 ID: #1234

Bacalah teks berikut:

"Dani berhasil menyelesaikan teka-teki sulit. Ia tersenyum puas dan menepuk dadanya bangga."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Dani merasa bangga setelah menyelesaikan teka-teki.

2. Dani tersenyum puas menunjukkan kebanggaan.

3. Dani merasa takut dan cemas.

Pertanyaan 15 ID: #1235

Bacalah teks berikut:

"Mira melihat anjing kecil terluka di jalan. Hatinya cemas dan ia segera mencari pertolongan."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Mira merasa cemas melihat anjing terluka.

2. Respons emosional Mira mendorongnya mencari pertolongan.

3. Mira merasa senang dan gembira.

Pertanyaan 16 ID: #1236

Bacalah teks berikut:

"Budi tersesat di hutan. Ia merasa panik dan takut saat kegelapan mulai turun."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Budi merasa panik karena tersesat di hutan.

2. Respons emosional Budi adalah ketakutan.

3. Budi merasa tenang dan bahagia.

Pertanyaan 17 ID: #1237

Bacalah teks berikut:

"Lina mendapatkan hadiah ulang tahun yang diinginkannya. Ia tersenyum bahagia dan melompat kegirangan."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Lina merasa bahagia saat mendapatkan hadiah.

2. Respons emosional Lina menunjukkan kegembiraan.

3. Lina merasa sedih dan kecewa.

Pertanyaan 18 ID: #1238

Bacalah teks berikut:

"Riko kehilangan dompetnya di sekolah. Ia merasa sedih dan kecewa, sambil mencari di setiap kelas."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Riko merasa sedih karena kehilangan dompet.

2. Respons emosional Riko adalah kecewa.

3. Riko merasa senang dan puas.

Pertanyaan 19 ID: #1239

Bacalah teks berikut:

"Tina berhasil membantu temannya yang kesulitan. Ia merasa bangga dan puas atas tindakannya."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Tina merasa bangga setelah membantu temannya.

2. Respons emosional Tina adalah puas dan senang.

3. Tina merasa takut dan cemas.

Pertanyaan 20 ID: #1240

Bacalah teks berikut:

"Andi mendengar cerita menyeramkan dari teman-temannya. Hatinya cemas dan bulu kuduknya merinding."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Andi merasa cemas mendengar cerita menyeramkan.

2. Respons emosional Andi adalah takut.

3. Andi merasa senang dan gembira.