Menyimpan...
30:00
Soal 1/20
Bahasa Indonesia - Estetika Metafora Dan Analisis Citraan Dalam Transformasi Lanskap
BACAAN / STIMULUS

Estetika Metafora dan Analisis Citraan dalam Transformasi Lanskap

Semburat cahaya keemasan (golden hour) mulai meredup di cakrawala saat Arga melakukan kontemplasi di tepian sungai yang mengalir tenang. Angin sore meniupkan aroma dedaunan basah yang secara simultan membangkitkan memori masa kecil yang terkunci di relung sanubari. Baginya, sungai tersebut bukan sekadar manifestasi aliran hidrologi, melainkan saksi bisu perjalanan hidup yang memantulkan tarian cahaya bak lukisan hidup yang dinamis.

Memori Arga terlempar pada dekade sebelumnya, saat ia dan sang kakek kerap melakukan interaksi edukatif melalui dongeng-dongeng filosofis mengenai etika dan kesetiaan. Suara bariton kakeknya yang hangat seolah terpatri dalam frekuensi yang tak mampu dieliminasi oleh waktu. Namun, realitas masa kini menunjukkan kontras yang tajam; rumah kayu yang penuh histori kini telah luluh lantak oleh usia, dan jalan setapak alami telah terinvasi oleh beton dingin serta deru mekanis kendaraan yang mendistorsi keheningan desa.

Meskipun lanskap fisik desa telah mengalami transformasi drastis, Arga menyadari bahwa kenangan tetap hidup dan bernapas dalam imajinasinya. Ia merasakan kehadiran metafisik sang kakek melalui desir angin dan gemericik air yang menenangkan. Dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh tekad, Arga berkomitmen untuk menjaga nyala api semangat dan narasi masa lalu tersebut agar tidak padam di tengah arus modernisasi yang kian kencang, bagaikan memelihara cahaya kecil dalam gulita malam yang panjang.

Pertanyaan 1 ID: #171

Ungkapan “angin sejuk meniupkan aroma dedaunan basah” merupakan contoh dari…

BACAAN / STIMULUS

Estetika Metafora dan Analisis Citraan dalam Transformasi Lanskap

Semburat cahaya keemasan (golden hour) mulai meredup di cakrawala saat Arga melakukan kontemplasi di tepian sungai yang mengalir tenang. Angin sore meniupkan aroma dedaunan basah yang secara simultan membangkitkan memori masa kecil yang terkunci di relung sanubari. Baginya, sungai tersebut bukan sekadar manifestasi aliran hidrologi, melainkan saksi bisu perjalanan hidup yang memantulkan tarian cahaya bak lukisan hidup yang dinamis.

Memori Arga terlempar pada dekade sebelumnya, saat ia dan sang kakek kerap melakukan interaksi edukatif melalui dongeng-dongeng filosofis mengenai etika dan kesetiaan. Suara bariton kakeknya yang hangat seolah terpatri dalam frekuensi yang tak mampu dieliminasi oleh waktu. Namun, realitas masa kini menunjukkan kontras yang tajam; rumah kayu yang penuh histori kini telah luluh lantak oleh usia, dan jalan setapak alami telah terinvasi oleh beton dingin serta deru mekanis kendaraan yang mendistorsi keheningan desa.

Meskipun lanskap fisik desa telah mengalami transformasi drastis, Arga menyadari bahwa kenangan tetap hidup dan bernapas dalam imajinasinya. Ia merasakan kehadiran metafisik sang kakek melalui desir angin dan gemericik air yang menenangkan. Dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh tekad, Arga berkomitmen untuk menjaga nyala api semangat dan narasi masa lalu tersebut agar tidak padam di tengah arus modernisasi yang kian kencang, bagaikan memelihara cahaya kecil dalam gulita malam yang panjang.

Pertanyaan 2 ID: #172

Kalimat “sungai itu bukan hanya aliran air baginya—ia adalah saksi bisu perjalanan hidupnya” mengandung majas…

BACAAN / STIMULUS

Estetika Metafora dan Analisis Citraan dalam Transformasi Lanskap

Semburat cahaya keemasan (golden hour) mulai meredup di cakrawala saat Arga melakukan kontemplasi di tepian sungai yang mengalir tenang. Angin sore meniupkan aroma dedaunan basah yang secara simultan membangkitkan memori masa kecil yang terkunci di relung sanubari. Baginya, sungai tersebut bukan sekadar manifestasi aliran hidrologi, melainkan saksi bisu perjalanan hidup yang memantulkan tarian cahaya bak lukisan hidup yang dinamis.

Memori Arga terlempar pada dekade sebelumnya, saat ia dan sang kakek kerap melakukan interaksi edukatif melalui dongeng-dongeng filosofis mengenai etika dan kesetiaan. Suara bariton kakeknya yang hangat seolah terpatri dalam frekuensi yang tak mampu dieliminasi oleh waktu. Namun, realitas masa kini menunjukkan kontras yang tajam; rumah kayu yang penuh histori kini telah luluh lantak oleh usia, dan jalan setapak alami telah terinvasi oleh beton dingin serta deru mekanis kendaraan yang mendistorsi keheningan desa.

Meskipun lanskap fisik desa telah mengalami transformasi drastis, Arga menyadari bahwa kenangan tetap hidup dan bernapas dalam imajinasinya. Ia merasakan kehadiran metafisik sang kakek melalui desir angin dan gemericik air yang menenangkan. Dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh tekad, Arga berkomitmen untuk menjaga nyala api semangat dan narasi masa lalu tersebut agar tidak padam di tengah arus modernisasi yang kian kencang, bagaikan memelihara cahaya kecil dalam gulita malam yang panjang.

Pertanyaan 3 ID: #173

Gambaran “tarian cahaya yang memantul seperti lukisan hidup” merupakan bentuk citraan…

BACAAN / STIMULUS

Estetika Metafora dan Analisis Citraan dalam Transformasi Lanskap

Semburat cahaya keemasan (golden hour) mulai meredup di cakrawala saat Arga melakukan kontemplasi di tepian sungai yang mengalir tenang. Angin sore meniupkan aroma dedaunan basah yang secara simultan membangkitkan memori masa kecil yang terkunci di relung sanubari. Baginya, sungai tersebut bukan sekadar manifestasi aliran hidrologi, melainkan saksi bisu perjalanan hidup yang memantulkan tarian cahaya bak lukisan hidup yang dinamis.

Memori Arga terlempar pada dekade sebelumnya, saat ia dan sang kakek kerap melakukan interaksi edukatif melalui dongeng-dongeng filosofis mengenai etika dan kesetiaan. Suara bariton kakeknya yang hangat seolah terpatri dalam frekuensi yang tak mampu dieliminasi oleh waktu. Namun, realitas masa kini menunjukkan kontras yang tajam; rumah kayu yang penuh histori kini telah luluh lantak oleh usia, dan jalan setapak alami telah terinvasi oleh beton dingin serta deru mekanis kendaraan yang mendistorsi keheningan desa.

Meskipun lanskap fisik desa telah mengalami transformasi drastis, Arga menyadari bahwa kenangan tetap hidup dan bernapas dalam imajinasinya. Ia merasakan kehadiran metafisik sang kakek melalui desir angin dan gemericik air yang menenangkan. Dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh tekad, Arga berkomitmen untuk menjaga nyala api semangat dan narasi masa lalu tersebut agar tidak padam di tengah arus modernisasi yang kian kencang, bagaikan memelihara cahaya kecil dalam gulita malam yang panjang.

Pertanyaan 4 ID: #174

Makna kias dari kalimat “waktu tak mampu merenggutnya” adalah…

BACAAN / STIMULUS

Estetika Metafora dan Analisis Citraan dalam Transformasi Lanskap

Semburat cahaya keemasan (golden hour) mulai meredup di cakrawala saat Arga melakukan kontemplasi di tepian sungai yang mengalir tenang. Angin sore meniupkan aroma dedaunan basah yang secara simultan membangkitkan memori masa kecil yang terkunci di relung sanubari. Baginya, sungai tersebut bukan sekadar manifestasi aliran hidrologi, melainkan saksi bisu perjalanan hidup yang memantulkan tarian cahaya bak lukisan hidup yang dinamis.

Memori Arga terlempar pada dekade sebelumnya, saat ia dan sang kakek kerap melakukan interaksi edukatif melalui dongeng-dongeng filosofis mengenai etika dan kesetiaan. Suara bariton kakeknya yang hangat seolah terpatri dalam frekuensi yang tak mampu dieliminasi oleh waktu. Namun, realitas masa kini menunjukkan kontras yang tajam; rumah kayu yang penuh histori kini telah luluh lantak oleh usia, dan jalan setapak alami telah terinvasi oleh beton dingin serta deru mekanis kendaraan yang mendistorsi keheningan desa.

Meskipun lanskap fisik desa telah mengalami transformasi drastis, Arga menyadari bahwa kenangan tetap hidup dan bernapas dalam imajinasinya. Ia merasakan kehadiran metafisik sang kakek melalui desir angin dan gemericik air yang menenangkan. Dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh tekad, Arga berkomitmen untuk menjaga nyala api semangat dan narasi masa lalu tersebut agar tidak padam di tengah arus modernisasi yang kian kencang, bagaikan memelihara cahaya kecil dalam gulita malam yang panjang.

Pertanyaan 5 ID: #175

“Kenangan itu tak pernah mati” merupakan majas…

BACAAN / STIMULUS

Estetika Metafora dan Analisis Citraan dalam Transformasi Lanskap

Semburat cahaya keemasan (golden hour) mulai meredup di cakrawala saat Arga melakukan kontemplasi di tepian sungai yang mengalir tenang. Angin sore meniupkan aroma dedaunan basah yang secara simultan membangkitkan memori masa kecil yang terkunci di relung sanubari. Baginya, sungai tersebut bukan sekadar manifestasi aliran hidrologi, melainkan saksi bisu perjalanan hidup yang memantulkan tarian cahaya bak lukisan hidup yang dinamis.

Memori Arga terlempar pada dekade sebelumnya, saat ia dan sang kakek kerap melakukan interaksi edukatif melalui dongeng-dongeng filosofis mengenai etika dan kesetiaan. Suara bariton kakeknya yang hangat seolah terpatri dalam frekuensi yang tak mampu dieliminasi oleh waktu. Namun, realitas masa kini menunjukkan kontras yang tajam; rumah kayu yang penuh histori kini telah luluh lantak oleh usia, dan jalan setapak alami telah terinvasi oleh beton dingin serta deru mekanis kendaraan yang mendistorsi keheningan desa.

Meskipun lanskap fisik desa telah mengalami transformasi drastis, Arga menyadari bahwa kenangan tetap hidup dan bernapas dalam imajinasinya. Ia merasakan kehadiran metafisik sang kakek melalui desir angin dan gemericik air yang menenangkan. Dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh tekad, Arga berkomitmen untuk menjaga nyala api semangat dan narasi masa lalu tersebut agar tidak padam di tengah arus modernisasi yang kian kencang, bagaikan memelihara cahaya kecil dalam gulita malam yang panjang.

Pertanyaan 6 ID: #176

Kalimat “seolah pelukan kakeknya menyelimuti dari jauh” mengandung citraan…

BACAAN / STIMULUS

Estetika Metafora dan Analisis Citraan dalam Transformasi Lanskap

Semburat cahaya keemasan (golden hour) mulai meredup di cakrawala saat Arga melakukan kontemplasi di tepian sungai yang mengalir tenang. Angin sore meniupkan aroma dedaunan basah yang secara simultan membangkitkan memori masa kecil yang terkunci di relung sanubari. Baginya, sungai tersebut bukan sekadar manifestasi aliran hidrologi, melainkan saksi bisu perjalanan hidup yang memantulkan tarian cahaya bak lukisan hidup yang dinamis.

Memori Arga terlempar pada dekade sebelumnya, saat ia dan sang kakek kerap melakukan interaksi edukatif melalui dongeng-dongeng filosofis mengenai etika dan kesetiaan. Suara bariton kakeknya yang hangat seolah terpatri dalam frekuensi yang tak mampu dieliminasi oleh waktu. Namun, realitas masa kini menunjukkan kontras yang tajam; rumah kayu yang penuh histori kini telah luluh lantak oleh usia, dan jalan setapak alami telah terinvasi oleh beton dingin serta deru mekanis kendaraan yang mendistorsi keheningan desa.

Meskipun lanskap fisik desa telah mengalami transformasi drastis, Arga menyadari bahwa kenangan tetap hidup dan bernapas dalam imajinasinya. Ia merasakan kehadiran metafisik sang kakek melalui desir angin dan gemericik air yang menenangkan. Dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh tekad, Arga berkomitmen untuk menjaga nyala api semangat dan narasi masa lalu tersebut agar tidak padam di tengah arus modernisasi yang kian kencang, bagaikan memelihara cahaya kecil dalam gulita malam yang panjang.

Pertanyaan 7 ID: #177

Kalimat “deru kendaraan” menimbulkan kesan citraan…

BACAAN / STIMULUS

Estetika Metafora dan Analisis Citraan dalam Transformasi Lanskap

Semburat cahaya keemasan (golden hour) mulai meredup di cakrawala saat Arga melakukan kontemplasi di tepian sungai yang mengalir tenang. Angin sore meniupkan aroma dedaunan basah yang secara simultan membangkitkan memori masa kecil yang terkunci di relung sanubari. Baginya, sungai tersebut bukan sekadar manifestasi aliran hidrologi, melainkan saksi bisu perjalanan hidup yang memantulkan tarian cahaya bak lukisan hidup yang dinamis.

Memori Arga terlempar pada dekade sebelumnya, saat ia dan sang kakek kerap melakukan interaksi edukatif melalui dongeng-dongeng filosofis mengenai etika dan kesetiaan. Suara bariton kakeknya yang hangat seolah terpatri dalam frekuensi yang tak mampu dieliminasi oleh waktu. Namun, realitas masa kini menunjukkan kontras yang tajam; rumah kayu yang penuh histori kini telah luluh lantak oleh usia, dan jalan setapak alami telah terinvasi oleh beton dingin serta deru mekanis kendaraan yang mendistorsi keheningan desa.

Meskipun lanskap fisik desa telah mengalami transformasi drastis, Arga menyadari bahwa kenangan tetap hidup dan bernapas dalam imajinasinya. Ia merasakan kehadiran metafisik sang kakek melalui desir angin dan gemericik air yang menenangkan. Dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh tekad, Arga berkomitmen untuk menjaga nyala api semangat dan narasi masa lalu tersebut agar tidak padam di tengah arus modernisasi yang kian kencang, bagaikan memelihara cahaya kecil dalam gulita malam yang panjang.

Pertanyaan 8 ID: #178

Penggunaan frasa “lukisan hidup” dalam teks menunjukkan gaya bahasa…

BACAAN / STIMULUS

Estetika Metafora dan Analisis Citraan dalam Transformasi Lanskap

Semburat cahaya keemasan (golden hour) mulai meredup di cakrawala saat Arga melakukan kontemplasi di tepian sungai yang mengalir tenang. Angin sore meniupkan aroma dedaunan basah yang secara simultan membangkitkan memori masa kecil yang terkunci di relung sanubari. Baginya, sungai tersebut bukan sekadar manifestasi aliran hidrologi, melainkan saksi bisu perjalanan hidup yang memantulkan tarian cahaya bak lukisan hidup yang dinamis.

Memori Arga terlempar pada dekade sebelumnya, saat ia dan sang kakek kerap melakukan interaksi edukatif melalui dongeng-dongeng filosofis mengenai etika dan kesetiaan. Suara bariton kakeknya yang hangat seolah terpatri dalam frekuensi yang tak mampu dieliminasi oleh waktu. Namun, realitas masa kini menunjukkan kontras yang tajam; rumah kayu yang penuh histori kini telah luluh lantak oleh usia, dan jalan setapak alami telah terinvasi oleh beton dingin serta deru mekanis kendaraan yang mendistorsi keheningan desa.

Meskipun lanskap fisik desa telah mengalami transformasi drastis, Arga menyadari bahwa kenangan tetap hidup dan bernapas dalam imajinasinya. Ia merasakan kehadiran metafisik sang kakek melalui desir angin dan gemericik air yang menenangkan. Dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh tekad, Arga berkomitmen untuk menjaga nyala api semangat dan narasi masa lalu tersebut agar tidak padam di tengah arus modernisasi yang kian kencang, bagaikan memelihara cahaya kecil dalam gulita malam yang panjang.

Pertanyaan 9 ID: #179

Apa fungsi penggunaan bahasa kias dalam penggalan cerita tersebut?

BACAAN / STIMULUS

Estetika Metafora dan Analisis Citraan dalam Transformasi Lanskap

Semburat cahaya keemasan (golden hour) mulai meredup di cakrawala saat Arga melakukan kontemplasi di tepian sungai yang mengalir tenang. Angin sore meniupkan aroma dedaunan basah yang secara simultan membangkitkan memori masa kecil yang terkunci di relung sanubari. Baginya, sungai tersebut bukan sekadar manifestasi aliran hidrologi, melainkan saksi bisu perjalanan hidup yang memantulkan tarian cahaya bak lukisan hidup yang dinamis.

Memori Arga terlempar pada dekade sebelumnya, saat ia dan sang kakek kerap melakukan interaksi edukatif melalui dongeng-dongeng filosofis mengenai etika dan kesetiaan. Suara bariton kakeknya yang hangat seolah terpatri dalam frekuensi yang tak mampu dieliminasi oleh waktu. Namun, realitas masa kini menunjukkan kontras yang tajam; rumah kayu yang penuh histori kini telah luluh lantak oleh usia, dan jalan setapak alami telah terinvasi oleh beton dingin serta deru mekanis kendaraan yang mendistorsi keheningan desa.

Meskipun lanskap fisik desa telah mengalami transformasi drastis, Arga menyadari bahwa kenangan tetap hidup dan bernapas dalam imajinasinya. Ia merasakan kehadiran metafisik sang kakek melalui desir angin dan gemericik air yang menenangkan. Dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh tekad, Arga berkomitmen untuk menjaga nyala api semangat dan narasi masa lalu tersebut agar tidak padam di tengah arus modernisasi yang kian kencang, bagaikan memelihara cahaya kecil dalam gulita malam yang panjang.

Pertanyaan 10 ID: #180

Kalimat “menjaga nyala api kecil dalam malam yang panjang” bermakna kias dari…

Pertanyaan 11 ID: #1201

Bacalah teks berikut:

"Langit senja berwarna merah darah, seolah bumi terbakar. Burung-burung pulang ke sarangnya dan angin membawa aroma hujan."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut berdasarkan bahasa kias dan citraan dalam teks.

1. Langit senja berwarna merah darah adalah citraan visual.

2. Burung pulang ke sarangnya menunjukkan suasana tenang.

3. Cerita membahas cuaca cerah di siang hari.

Pertanyaan 12 ID: #1202

Bacalah teks berikut:

"Hati Rani beku seperti es, saat mendengar kabar sahabatnya pindah sekolah. Tangisnya menetes tanpa suara, menyayat kesunyian kamar."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Hati Rani beku seperti es adalah bahasa kias.

2. Tangisnya menetes tanpa suara menunjukkan citraan emosional.

3. Cerita membahas pesta ulang tahun.

Pertanyaan 13 ID: #1203

Bacalah teks berikut:

"Ombak laut berdebur seperti drum raksasa, menghantam karang dengan dentuman keras. Aroma laut asin menusuk hidung, membuat hati terasa segar dan takut sekaligus."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Ombak laut berdebur seperti drum adalah bahasa kias.

2. Aroma laut asin menciptakan citraan sensorik.

3. Cerita membahas hutan pegunungan.

Pertanyaan 14 ID: #1204

Bacalah teks berikut:

"Pohon tua itu menunduk sedih, daunnya gugur satu per satu seperti air mata. Angin berbisik pelan membawa kenangan masa lalu."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Pohon tua menunduk sedih adalah bahasa kias.

2. Daun gugur seperti air mata menunjukkan citraan visual.

3. Cerita membahas kendaraan bermotor.

Pertanyaan 15 ID: #1205

Bacalah teks berikut:

"Matahari pagi tersenyum hangat di atas bukit. Embun menetes di daun-daun, memantulkan cahaya seperti permata."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Matahari pagi tersenyum hangat adalah bahasa kias.

2. Embun menetes memantulkan cahaya seperti permata adalah citraan visual.

3. Cerita membahas hujan deras di malam hari.

Pertanyaan 16 ID: #1206

Bacalah teks berikut:

"Langit malam pekat, bintang berkelip seperti mata-mata kecil yang mengintip rahasia bumi."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Bintang berkelip seperti mata-mata kecil adalah bahasa kias.

2. Langit malam pekat menciptakan citraan visual.

3. Cerita membahas siang hari cerah.

Pertanyaan 17 ID: #1207

Bacalah teks berikut:

"Hujan turun bagai tirai perak, menutupi jalanan dan membasahi bunga-bunga di taman. Suara tetesan menciptakan musik yang menenangkan."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Hujan turun bagai tirai perak adalah bahasa kias.

2. Suara tetesan menciptakan musik menenangkan adalah citraan auditori.

3. Cerita membahas matahari terbenam.

Pertanyaan 18 ID: #1208

Bacalah teks berikut:

"Angin malam berhembus dingin seperti bisikan hantu, membuat bulu kuduk merinding. Lampu-lampu rumah berkelip menambah kesan misteri."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Angin malam berhembus dingin seperti bisikan hantu adalah bahasa kias.

2. Lampu-lampu berkelip menambah citraan visual.

3. Cerita membahas siang hari di pantai.

Pertanyaan 19 ID: #1209

Bacalah teks berikut:

"Daun-daun gugur menari di udara, membentuk pusaran kecil yang berputar di halaman kosong. Aroma tanah basah memenuhi hidung."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Daun-daun gugur menari adalah bahasa kias.

2. Aroma tanah basah adalah citraan sensorik.

3. Cerita membahas perjalanan ke gunung.

Pertanyaan 20 ID: #1210

Bacalah teks berikut:

"Kucing hitam melompat ringan di atas tembok, matanya bersinar seperti lampu senter di kegelapan malam."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Kucing hitam matanya bersinar seperti lampu senter adalah bahasa kias.

2. Aksi kucing menciptakan citraan visual.

3. Cerita membahas burung di siang hari.