Estetika Metafora dan Analisis Citraan dalam Transformasi Lanskap
Semburat cahaya keemasan (golden hour) mulai meredup di cakrawala saat Arga melakukan kontemplasi di tepian sungai yang mengalir tenang. Angin sore meniupkan aroma dedaunan basah yang secara simultan membangkitkan memori masa kecil yang terkunci di relung sanubari. Baginya, sungai tersebut bukan sekadar manifestasi aliran hidrologi, melainkan saksi bisu perjalanan hidup yang memantulkan tarian cahaya bak lukisan hidup yang dinamis.
Memori Arga terlempar pada dekade sebelumnya, saat ia dan sang kakek kerap melakukan interaksi edukatif melalui dongeng-dongeng filosofis mengenai etika dan kesetiaan. Suara bariton kakeknya yang hangat seolah terpatri dalam frekuensi yang tak mampu dieliminasi oleh waktu. Namun, realitas masa kini menunjukkan kontras yang tajam; rumah kayu yang penuh histori kini telah luluh lantak oleh usia, dan jalan setapak alami telah terinvasi oleh beton dingin serta deru mekanis kendaraan yang mendistorsi keheningan desa.
Meskipun lanskap fisik desa telah mengalami transformasi drastis, Arga menyadari bahwa kenangan tetap hidup dan bernapas dalam imajinasinya. Ia merasakan kehadiran metafisik sang kakek melalui desir angin dan gemericik air yang menenangkan. Dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh tekad, Arga berkomitmen untuk menjaga nyala api semangat dan narasi masa lalu tersebut agar tidak padam di tengah arus modernisasi yang kian kencang, bagaikan memelihara cahaya kecil dalam gulita malam yang panjang.