Menyimpan...
30:00
Soal 1/30
Bahasa Indonesia - Misteri Di Puncak Gunung Angker
BACAAN / STIMULUS

Internalisasi Nilai Sosio-Edukasi dan Identifikasi Figur Inspiratif

Eksistensi sebuah desa di lereng pegunungan yang asri menjadi latar kehidupan bagi Raka, seorang pemuda yang dikenal memiliki kepribadian rajin namun cenderung kontemplatif. Di balik kesehariannya membantu orang tua di sektor agraris, Raka mengalokasikan waktu luangnya untuk mengeksplorasi cakrawala melalui literatur yang dipinjam dari perpustakaan sekolah. Bagi Raka, kegiatan membaca bukan sekadar hobi, melainkan instrumen untuk merekonstruksi mimpi dan visi masa depannya agar lebih bermakna.

Dinamika ceritanya bermula saat otoritas pendidikan tingkat kabupaten mengumumkan lomba karya tulis bertajuk "Pahlawan Masa Kini". Raka sempat didera perasaan ragu karena ia merasa tidak memiliki kedekatan dengan sosok tokoh besar atau figur historis yang fenomenal untuk dijadikan subjek tulisan. Namun, sebuah refleksi mendalam membawanya pada ingatan mengenai Pak Damar, seorang purnatugas guru yang mendedikasikan masa pensiunnya untuk mengajar anak-anak prasejahtera di desa tanpa memungut biaya sedikit pun.

Dalam narasinya, Raka mendeskripsikan bagaimana Pak Damar mentransformasi area di bawah pohon beringin menjadi ruang belajar fungsional yang dilengkapi literatur bekas. Melalui tulisan tersebut, Raka berhasil meyakinkan dewan juri bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang mengabdi dengan ketulusan dan ilmu, bukan sekadar simbol perjuangan fisik. Kemenangan Raka sebagai juara pertama tidak membuatnya pongah; dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa motivasi utamanya adalah mengangkat harkat orang baik di sekitarnya agar mendapatkan apresiasi yang layak secara komunal.

Pertanyaan 1 ID: #141

Apa ide pokok dari paragraf pertama?

BACAAN / STIMULUS

Internalisasi Nilai Sosio-Edukasi dan Identifikasi Figur Inspiratif

Eksistensi sebuah desa di lereng pegunungan yang asri menjadi latar kehidupan bagi Raka, seorang pemuda yang dikenal memiliki kepribadian rajin namun cenderung kontemplatif. Di balik kesehariannya membantu orang tua di sektor agraris, Raka mengalokasikan waktu luangnya untuk mengeksplorasi cakrawala melalui literatur yang dipinjam dari perpustakaan sekolah. Bagi Raka, kegiatan membaca bukan sekadar hobi, melainkan instrumen untuk merekonstruksi mimpi dan visi masa depannya agar lebih bermakna.

Dinamika ceritanya bermula saat otoritas pendidikan tingkat kabupaten mengumumkan lomba karya tulis bertajuk "Pahlawan Masa Kini". Raka sempat didera perasaan ragu karena ia merasa tidak memiliki kedekatan dengan sosok tokoh besar atau figur historis yang fenomenal untuk dijadikan subjek tulisan. Namun, sebuah refleksi mendalam membawanya pada ingatan mengenai Pak Damar, seorang purnatugas guru yang mendedikasikan masa pensiunnya untuk mengajar anak-anak prasejahtera di desa tanpa memungut biaya sedikit pun.

Dalam narasinya, Raka mendeskripsikan bagaimana Pak Damar mentransformasi area di bawah pohon beringin menjadi ruang belajar fungsional yang dilengkapi literatur bekas. Melalui tulisan tersebut, Raka berhasil meyakinkan dewan juri bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang mengabdi dengan ketulusan dan ilmu, bukan sekadar simbol perjuangan fisik. Kemenangan Raka sebagai juara pertama tidak membuatnya pongah; dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa motivasi utamanya adalah mengangkat harkat orang baik di sekitarnya agar mendapatkan apresiasi yang layak secara komunal.

Pertanyaan 2 ID: #142

Siapa tokoh utama dalam teks tersebut?

BACAAN / STIMULUS

Internalisasi Nilai Sosio-Edukasi dan Identifikasi Figur Inspiratif

Eksistensi sebuah desa di lereng pegunungan yang asri menjadi latar kehidupan bagi Raka, seorang pemuda yang dikenal memiliki kepribadian rajin namun cenderung kontemplatif. Di balik kesehariannya membantu orang tua di sektor agraris, Raka mengalokasikan waktu luangnya untuk mengeksplorasi cakrawala melalui literatur yang dipinjam dari perpustakaan sekolah. Bagi Raka, kegiatan membaca bukan sekadar hobi, melainkan instrumen untuk merekonstruksi mimpi dan visi masa depannya agar lebih bermakna.

Dinamika ceritanya bermula saat otoritas pendidikan tingkat kabupaten mengumumkan lomba karya tulis bertajuk "Pahlawan Masa Kini". Raka sempat didera perasaan ragu karena ia merasa tidak memiliki kedekatan dengan sosok tokoh besar atau figur historis yang fenomenal untuk dijadikan subjek tulisan. Namun, sebuah refleksi mendalam membawanya pada ingatan mengenai Pak Damar, seorang purnatugas guru yang mendedikasikan masa pensiunnya untuk mengajar anak-anak prasejahtera di desa tanpa memungut biaya sedikit pun.

Dalam narasinya, Raka mendeskripsikan bagaimana Pak Damar mentransformasi area di bawah pohon beringin menjadi ruang belajar fungsional yang dilengkapi literatur bekas. Melalui tulisan tersebut, Raka berhasil meyakinkan dewan juri bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang mengabdi dengan ketulusan dan ilmu, bukan sekadar simbol perjuangan fisik. Kemenangan Raka sebagai juara pertama tidak membuatnya pongah; dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa motivasi utamanya adalah mengangkat harkat orang baik di sekitarnya agar mendapatkan apresiasi yang layak secara komunal.

Pertanyaan 3 ID: #143

Mengapa Raka merasa ragu mengikuti lomba?

BACAAN / STIMULUS

Internalisasi Nilai Sosio-Edukasi dan Identifikasi Figur Inspiratif

Eksistensi sebuah desa di lereng pegunungan yang asri menjadi latar kehidupan bagi Raka, seorang pemuda yang dikenal memiliki kepribadian rajin namun cenderung kontemplatif. Di balik kesehariannya membantu orang tua di sektor agraris, Raka mengalokasikan waktu luangnya untuk mengeksplorasi cakrawala melalui literatur yang dipinjam dari perpustakaan sekolah. Bagi Raka, kegiatan membaca bukan sekadar hobi, melainkan instrumen untuk merekonstruksi mimpi dan visi masa depannya agar lebih bermakna.

Dinamika ceritanya bermula saat otoritas pendidikan tingkat kabupaten mengumumkan lomba karya tulis bertajuk "Pahlawan Masa Kini". Raka sempat didera perasaan ragu karena ia merasa tidak memiliki kedekatan dengan sosok tokoh besar atau figur historis yang fenomenal untuk dijadikan subjek tulisan. Namun, sebuah refleksi mendalam membawanya pada ingatan mengenai Pak Damar, seorang purnatugas guru yang mendedikasikan masa pensiunnya untuk mengajar anak-anak prasejahtera di desa tanpa memungut biaya sedikit pun.

Dalam narasinya, Raka mendeskripsikan bagaimana Pak Damar mentransformasi area di bawah pohon beringin menjadi ruang belajar fungsional yang dilengkapi literatur bekas. Melalui tulisan tersebut, Raka berhasil meyakinkan dewan juri bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang mengabdi dengan ketulusan dan ilmu, bukan sekadar simbol perjuangan fisik. Kemenangan Raka sebagai juara pertama tidak membuatnya pongah; dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa motivasi utamanya adalah mengangkat harkat orang baik di sekitarnya agar mendapatkan apresiasi yang layak secara komunal.

Pertanyaan 4 ID: #144

Siapa yang akhirnya menjadi inspirasi tulisan Raka?

BACAAN / STIMULUS

Internalisasi Nilai Sosio-Edukasi dan Identifikasi Figur Inspiratif

Eksistensi sebuah desa di lereng pegunungan yang asri menjadi latar kehidupan bagi Raka, seorang pemuda yang dikenal memiliki kepribadian rajin namun cenderung kontemplatif. Di balik kesehariannya membantu orang tua di sektor agraris, Raka mengalokasikan waktu luangnya untuk mengeksplorasi cakrawala melalui literatur yang dipinjam dari perpustakaan sekolah. Bagi Raka, kegiatan membaca bukan sekadar hobi, melainkan instrumen untuk merekonstruksi mimpi dan visi masa depannya agar lebih bermakna.

Dinamika ceritanya bermula saat otoritas pendidikan tingkat kabupaten mengumumkan lomba karya tulis bertajuk "Pahlawan Masa Kini". Raka sempat didera perasaan ragu karena ia merasa tidak memiliki kedekatan dengan sosok tokoh besar atau figur historis yang fenomenal untuk dijadikan subjek tulisan. Namun, sebuah refleksi mendalam membawanya pada ingatan mengenai Pak Damar, seorang purnatugas guru yang mendedikasikan masa pensiunnya untuk mengajar anak-anak prasejahtera di desa tanpa memungut biaya sedikit pun.

Dalam narasinya, Raka mendeskripsikan bagaimana Pak Damar mentransformasi area di bawah pohon beringin menjadi ruang belajar fungsional yang dilengkapi literatur bekas. Melalui tulisan tersebut, Raka berhasil meyakinkan dewan juri bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang mengabdi dengan ketulusan dan ilmu, bukan sekadar simbol perjuangan fisik. Kemenangan Raka sebagai juara pertama tidak membuatnya pongah; dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa motivasi utamanya adalah mengangkat harkat orang baik di sekitarnya agar mendapatkan apresiasi yang layak secara komunal.

Pertanyaan 5 ID: #145

Apa yang dilakukan Pak Damar untuk membantu anak-anak di desa?

BACAAN / STIMULUS

Internalisasi Nilai Sosio-Edukasi dan Identifikasi Figur Inspiratif

Eksistensi sebuah desa di lereng pegunungan yang asri menjadi latar kehidupan bagi Raka, seorang pemuda yang dikenal memiliki kepribadian rajin namun cenderung kontemplatif. Di balik kesehariannya membantu orang tua di sektor agraris, Raka mengalokasikan waktu luangnya untuk mengeksplorasi cakrawala melalui literatur yang dipinjam dari perpustakaan sekolah. Bagi Raka, kegiatan membaca bukan sekadar hobi, melainkan instrumen untuk merekonstruksi mimpi dan visi masa depannya agar lebih bermakna.

Dinamika ceritanya bermula saat otoritas pendidikan tingkat kabupaten mengumumkan lomba karya tulis bertajuk "Pahlawan Masa Kini". Raka sempat didera perasaan ragu karena ia merasa tidak memiliki kedekatan dengan sosok tokoh besar atau figur historis yang fenomenal untuk dijadikan subjek tulisan. Namun, sebuah refleksi mendalam membawanya pada ingatan mengenai Pak Damar, seorang purnatugas guru yang mendedikasikan masa pensiunnya untuk mengajar anak-anak prasejahtera di desa tanpa memungut biaya sedikit pun.

Dalam narasinya, Raka mendeskripsikan bagaimana Pak Damar mentransformasi area di bawah pohon beringin menjadi ruang belajar fungsional yang dilengkapi literatur bekas. Melalui tulisan tersebut, Raka berhasil meyakinkan dewan juri bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang mengabdi dengan ketulusan dan ilmu, bukan sekadar simbol perjuangan fisik. Kemenangan Raka sebagai juara pertama tidak membuatnya pongah; dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa motivasi utamanya adalah mengangkat harkat orang baik di sekitarnya agar mendapatkan apresiasi yang layak secara komunal.

Pertanyaan 6 ID: #146

Bagaimana sikap Raka terhadap kemenangan lomba tersebut?

BACAAN / STIMULUS

Internalisasi Nilai Sosio-Edukasi dan Identifikasi Figur Inspiratif

Eksistensi sebuah desa di lereng pegunungan yang asri menjadi latar kehidupan bagi Raka, seorang pemuda yang dikenal memiliki kepribadian rajin namun cenderung kontemplatif. Di balik kesehariannya membantu orang tua di sektor agraris, Raka mengalokasikan waktu luangnya untuk mengeksplorasi cakrawala melalui literatur yang dipinjam dari perpustakaan sekolah. Bagi Raka, kegiatan membaca bukan sekadar hobi, melainkan instrumen untuk merekonstruksi mimpi dan visi masa depannya agar lebih bermakna.

Dinamika ceritanya bermula saat otoritas pendidikan tingkat kabupaten mengumumkan lomba karya tulis bertajuk "Pahlawan Masa Kini". Raka sempat didera perasaan ragu karena ia merasa tidak memiliki kedekatan dengan sosok tokoh besar atau figur historis yang fenomenal untuk dijadikan subjek tulisan. Namun, sebuah refleksi mendalam membawanya pada ingatan mengenai Pak Damar, seorang purnatugas guru yang mendedikasikan masa pensiunnya untuk mengajar anak-anak prasejahtera di desa tanpa memungut biaya sedikit pun.

Dalam narasinya, Raka mendeskripsikan bagaimana Pak Damar mentransformasi area di bawah pohon beringin menjadi ruang belajar fungsional yang dilengkapi literatur bekas. Melalui tulisan tersebut, Raka berhasil meyakinkan dewan juri bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang mengabdi dengan ketulusan dan ilmu, bukan sekadar simbol perjuangan fisik. Kemenangan Raka sebagai juara pertama tidak membuatnya pongah; dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa motivasi utamanya adalah mengangkat harkat orang baik di sekitarnya agar mendapatkan apresiasi yang layak secara komunal.

Pertanyaan 7 ID: #147

Apa nilai moral yang dapat diambil dari cerita ini?

BACAAN / STIMULUS

Internalisasi Nilai Sosio-Edukasi dan Identifikasi Figur Inspiratif

Eksistensi sebuah desa di lereng pegunungan yang asri menjadi latar kehidupan bagi Raka, seorang pemuda yang dikenal memiliki kepribadian rajin namun cenderung kontemplatif. Di balik kesehariannya membantu orang tua di sektor agraris, Raka mengalokasikan waktu luangnya untuk mengeksplorasi cakrawala melalui literatur yang dipinjam dari perpustakaan sekolah. Bagi Raka, kegiatan membaca bukan sekadar hobi, melainkan instrumen untuk merekonstruksi mimpi dan visi masa depannya agar lebih bermakna.

Dinamika ceritanya bermula saat otoritas pendidikan tingkat kabupaten mengumumkan lomba karya tulis bertajuk "Pahlawan Masa Kini". Raka sempat didera perasaan ragu karena ia merasa tidak memiliki kedekatan dengan sosok tokoh besar atau figur historis yang fenomenal untuk dijadikan subjek tulisan. Namun, sebuah refleksi mendalam membawanya pada ingatan mengenai Pak Damar, seorang purnatugas guru yang mendedikasikan masa pensiunnya untuk mengajar anak-anak prasejahtera di desa tanpa memungut biaya sedikit pun.

Dalam narasinya, Raka mendeskripsikan bagaimana Pak Damar mentransformasi area di bawah pohon beringin menjadi ruang belajar fungsional yang dilengkapi literatur bekas. Melalui tulisan tersebut, Raka berhasil meyakinkan dewan juri bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang mengabdi dengan ketulusan dan ilmu, bukan sekadar simbol perjuangan fisik. Kemenangan Raka sebagai juara pertama tidak membuatnya pongah; dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa motivasi utamanya adalah mengangkat harkat orang baik di sekitarnya agar mendapatkan apresiasi yang layak secara komunal.

Pertanyaan 8 ID: #148

Bagaimana perubahan yang terjadi setelah tulisan Raka menang lomba?

BACAAN / STIMULUS

Internalisasi Nilai Sosio-Edukasi dan Identifikasi Figur Inspiratif

Eksistensi sebuah desa di lereng pegunungan yang asri menjadi latar kehidupan bagi Raka, seorang pemuda yang dikenal memiliki kepribadian rajin namun cenderung kontemplatif. Di balik kesehariannya membantu orang tua di sektor agraris, Raka mengalokasikan waktu luangnya untuk mengeksplorasi cakrawala melalui literatur yang dipinjam dari perpustakaan sekolah. Bagi Raka, kegiatan membaca bukan sekadar hobi, melainkan instrumen untuk merekonstruksi mimpi dan visi masa depannya agar lebih bermakna.

Dinamika ceritanya bermula saat otoritas pendidikan tingkat kabupaten mengumumkan lomba karya tulis bertajuk "Pahlawan Masa Kini". Raka sempat didera perasaan ragu karena ia merasa tidak memiliki kedekatan dengan sosok tokoh besar atau figur historis yang fenomenal untuk dijadikan subjek tulisan. Namun, sebuah refleksi mendalam membawanya pada ingatan mengenai Pak Damar, seorang purnatugas guru yang mendedikasikan masa pensiunnya untuk mengajar anak-anak prasejahtera di desa tanpa memungut biaya sedikit pun.

Dalam narasinya, Raka mendeskripsikan bagaimana Pak Damar mentransformasi area di bawah pohon beringin menjadi ruang belajar fungsional yang dilengkapi literatur bekas. Melalui tulisan tersebut, Raka berhasil meyakinkan dewan juri bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang mengabdi dengan ketulusan dan ilmu, bukan sekadar simbol perjuangan fisik. Kemenangan Raka sebagai juara pertama tidak membuatnya pongah; dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa motivasi utamanya adalah mengangkat harkat orang baik di sekitarnya agar mendapatkan apresiasi yang layak secara komunal.

Pertanyaan 9 ID: #149

Apakah yang dimaksud Raka dengan “orang baik di sekitar kita”?

BACAAN / STIMULUS

Internalisasi Nilai Sosio-Edukasi dan Identifikasi Figur Inspiratif

Eksistensi sebuah desa di lereng pegunungan yang asri menjadi latar kehidupan bagi Raka, seorang pemuda yang dikenal memiliki kepribadian rajin namun cenderung kontemplatif. Di balik kesehariannya membantu orang tua di sektor agraris, Raka mengalokasikan waktu luangnya untuk mengeksplorasi cakrawala melalui literatur yang dipinjam dari perpustakaan sekolah. Bagi Raka, kegiatan membaca bukan sekadar hobi, melainkan instrumen untuk merekonstruksi mimpi dan visi masa depannya agar lebih bermakna.

Dinamika ceritanya bermula saat otoritas pendidikan tingkat kabupaten mengumumkan lomba karya tulis bertajuk "Pahlawan Masa Kini". Raka sempat didera perasaan ragu karena ia merasa tidak memiliki kedekatan dengan sosok tokoh besar atau figur historis yang fenomenal untuk dijadikan subjek tulisan. Namun, sebuah refleksi mendalam membawanya pada ingatan mengenai Pak Damar, seorang purnatugas guru yang mendedikasikan masa pensiunnya untuk mengajar anak-anak prasejahtera di desa tanpa memungut biaya sedikit pun.

Dalam narasinya, Raka mendeskripsikan bagaimana Pak Damar mentransformasi area di bawah pohon beringin menjadi ruang belajar fungsional yang dilengkapi literatur bekas. Melalui tulisan tersebut, Raka berhasil meyakinkan dewan juri bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang mengabdi dengan ketulusan dan ilmu, bukan sekadar simbol perjuangan fisik. Kemenangan Raka sebagai juara pertama tidak membuatnya pongah; dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa motivasi utamanya adalah mengangkat harkat orang baik di sekitarnya agar mendapatkan apresiasi yang layak secara komunal.

Pertanyaan 10 ID: #150

Apa latar tempat utama dalam cerita ini?

Pertanyaan 11 ID: #1171

Bacalah teks berikut:

"Di sebuah desa, Ani selalu membantu tetangganya yang kesulitan. Ia memberikan makanan kepada yang lapar dan membantu yang sakit. Ani dikenal sebagai sosok yang peduli dan murah hati."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut berdasarkan ide pokok, tokoh, dan nilai dalam teks.

1. Ani selalu membantu tetangga adalah tokoh utama.

2. Nilai kepedulian dan kemurahan hati terlihat dari tindakan Ani.

3. Cerita membahas petualangan di luar angkasa.

Pertanyaan 12 ID: #1172

Bacalah teks berikut:

"Cerita tentang Rudi yang gemar menabung. Setiap minggu, Rudi menyisihkan uang jajannya untuk membeli buku. Sikapnya mengajarkan disiplin dan tanggung jawab."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Rudi gemar menabung adalah tokoh utama.

2. Disiplin dan tanggung jawab terlihat dari kebiasaan menabung Rudi.

3. Cerita membahas liburan di pantai.

Pertanyaan 13 ID: #1173

Bacalah teks berikut:

"Di sekolah, Budi selalu jujur dalam mengerjakan tugas. Ia tidak mencontek dan selalu membantu teman yang kesulitan. Nilai kejujuran menjadi teladan bagi teman-temannya."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Budi selalu jujur adalah tokoh utama.

2. Nilai kejujuran terlihat dari perilaku Budi.

3. Cerita membahas lomba olahraga.

Pertanyaan 14 ID: #1174

Bacalah teks berikut:

"Cerita tentang Lila yang menanam pohon di halaman rumahnya. Lila mengajak teman-temannya untuk peduli lingkungan. Nilai kepedulian terhadap alam tersampaikan melalui tindakannya."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Lila menanam pohon adalah tokoh utama.

2. Kepedulian terhadap lingkungan terlihat dari tindakan Lila.

3. Cerita membahas perjalanan ke luar negeri.

Pertanyaan 15 ID: #1175

Bacalah teks berikut:

"Di perpustakaan, Andi selalu membaca buku cerita dan ensiklopedia. Ia senang berbagi ilmu dengan teman-temannya. Nilai kegemaran membaca dan berbagi pengetahuan terlihat jelas."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Andi suka membaca adalah tokoh utama.

2. Nilai kegemaran membaca dan berbagi ilmu terlihat jelas.

3. Cerita membahas memasak di dapur.

Pertanyaan 16 ID: #1176

Bacalah teks berikut:

"Cerita tentang Tina yang selalu menghormati orang tua dan guru. Ia mendengarkan nasehat mereka dan berlaku sopan. Nilai hormat dan tata krama terlihat dari perilakunya."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Tina menghormati orang tua dan guru adalah tokoh utama.

2. Nilai hormat dan tata krama terlihat dari perilaku Tina.

3. Cerita membahas olahraga sepak bola.

Pertanyaan 17 ID: #1177

Bacalah teks berikut:

"Di pasar, Joko selalu membantu pedagang menata dagangan dan tidak mengambil barang tanpa izin. Ia menunjukkan nilai kejujuran dan kerja sama."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Joko membantu pedagang adalah tokoh utama.

2. Nilai kejujuran dan kerja sama terlihat dari perilaku Joko.

3. Cerita membahas liburan di gunung.

Pertanyaan 18 ID: #1178

Bacalah teks berikut:

"Cerita tentang Rina yang menyelamatkan kucing yang terjebak di pohon. Ia menunjukkan kepedulian terhadap hewan dan keberanian."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Rina menyelamatkan kucing adalah tokoh utama.

2. Nilai kepedulian dan keberanian terlihat dari tindakan Rina.

3. Cerita membahas makanan tradisional.

Pertanyaan 19 ID: #1179

Bacalah teks berikut:

"Di sekolah, Santi selalu bekerja sama dalam proyek kelompok. Ia mendengarkan ide teman dan berkontribusi aktif. Nilai kerja sama dan tanggung jawab terlihat jelas."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Santi bekerja sama dalam proyek adalah tokoh utama.

2. Nilai kerja sama dan tanggung jawab terlihat jelas.

3. Cerita membahas perjalanan ke luar angkasa.

Pertanyaan 20 ID: #1180

Bacalah teks berikut:

"Cerita tentang Dedi yang tekun belajar matematika setiap hari. Ia tidak mudah menyerah dan selalu berusaha memahami soal sulit. Nilai ketekunan dan kegigihan tersampaikan."


Pertanyaan:
Tentukan benar atau salah pernyataan berikut.

1. Dedi tekun belajar matematika adalah tokoh utama.

2. Nilai ketekunan dan kegigihan terlihat dari Dedi.

3. Cerita membahas liburan di pantai.

BACAAN / STIMULUS

Misteri di Puncak Gunung Angker

Desa Terpencil diselimuti kabut tebal, menyembunyikan sebuah rahasia yang telah turun-temurun diceritakan. Di ujung desa, berdiri tegak Gunung Angker, yang puncaknya selalu tertutup awan gelap. Penduduk desa percaya, gunung itu bersemayam roh-roh kuno yang tidak suka diganggu. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang berani mendekati, apalagi mendaki gunung tersebut. Suasana di desa menjadi hening dan tegang setiap kali ada yang menyebut nama gunung. Mereka hidup dalam ketakutan yang tak terucap.

Suatu hari, datang seorang pemuda bernama Arjuna, seorang petualang dari kota yang terkenal berani. Ia tidak percaya takhayul dan menganggap cerita penduduk desa hanya bualan belaka. "Aku akan mendaki gunung itu dan membuktikan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan," katanya dengan percaya diri. Penduduk desa menatapnya dengan kecemasan dan menasihati untuk tidak melanjutkan niatnya. Namun, Arjuna bergeming. Ia hanya tersenyum tipis dan menyiapkan perbekalan seadanya. Sikap Arjuna menunjukkan bahwa ia adalah orang yang rasional dan tidak mudah terpengaruh.

Keesokan harinya, Arjuna memulai pendakiannya. Kabut tebal semakin menyelimuti jalannya, membuat jarak pandang terbatas. Angin dingin berembus kencang, membawa bisikan-bisikan aneh. Meskipun tidak melihat apa pun, Arjuna mulai merasakan perasaan aneh dan bulu kuduknya merinding. Ia menyadari bahwa ketakutan penduduk desa bukanlah tanpa alasan. Ia melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, setiap langkahnya terasa berat. Ia mulai memahami bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan dengan logika semata.

Pertanyaan 21 ID: #1841

Dari paragraf pertama, apa saja nilai-nilai yang dapat disimpulkan dari kehidupan penduduk desa?

BACAAN / STIMULUS

Misteri di Puncak Gunung Angker

Desa Terpencil diselimuti kabut tebal, menyembunyikan sebuah rahasia yang telah turun-temurun diceritakan. Di ujung desa, berdiri tegak Gunung Angker, yang puncaknya selalu tertutup awan gelap. Penduduk desa percaya, gunung itu bersemayam roh-roh kuno yang tidak suka diganggu. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang berani mendekati, apalagi mendaki gunung tersebut. Suasana di desa menjadi hening dan tegang setiap kali ada yang menyebut nama gunung. Mereka hidup dalam ketakutan yang tak terucap.

Suatu hari, datang seorang pemuda bernama Arjuna, seorang petualang dari kota yang terkenal berani. Ia tidak percaya takhayul dan menganggap cerita penduduk desa hanya bualan belaka. "Aku akan mendaki gunung itu dan membuktikan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan," katanya dengan percaya diri. Penduduk desa menatapnya dengan kecemasan dan menasihati untuk tidak melanjutkan niatnya. Namun, Arjuna bergeming. Ia hanya tersenyum tipis dan menyiapkan perbekalan seadanya. Sikap Arjuna menunjukkan bahwa ia adalah orang yang rasional dan tidak mudah terpengaruh.

Keesokan harinya, Arjuna memulai pendakiannya. Kabut tebal semakin menyelimuti jalannya, membuat jarak pandang terbatas. Angin dingin berembus kencang, membawa bisikan-bisikan aneh. Meskipun tidak melihat apa pun, Arjuna mulai merasakan perasaan aneh dan bulu kuduknya merinding. Ia menyadari bahwa ketakutan penduduk desa bukanlah tanpa alasan. Ia melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, setiap langkahnya terasa berat. Ia mulai memahami bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan dengan logika semata.

Pertanyaan 22 ID: #1842

Apa saja gagasan pendukung yang menjelaskan latar belakang nama Gunung Angker?

BACAAN / STIMULUS

Misteri di Puncak Gunung Angker

Desa Terpencil diselimuti kabut tebal, menyembunyikan sebuah rahasia yang telah turun-temurun diceritakan. Di ujung desa, berdiri tegak Gunung Angker, yang puncaknya selalu tertutup awan gelap. Penduduk desa percaya, gunung itu bersemayam roh-roh kuno yang tidak suka diganggu. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang berani mendekati, apalagi mendaki gunung tersebut. Suasana di desa menjadi hening dan tegang setiap kali ada yang menyebut nama gunung. Mereka hidup dalam ketakutan yang tak terucap.

Suatu hari, datang seorang pemuda bernama Arjuna, seorang petualang dari kota yang terkenal berani. Ia tidak percaya takhayul dan menganggap cerita penduduk desa hanya bualan belaka. "Aku akan mendaki gunung itu dan membuktikan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan," katanya dengan percaya diri. Penduduk desa menatapnya dengan kecemasan dan menasihati untuk tidak melanjutkan niatnya. Namun, Arjuna bergeming. Ia hanya tersenyum tipis dan menyiapkan perbekalan seadanya. Sikap Arjuna menunjukkan bahwa ia adalah orang yang rasional dan tidak mudah terpengaruh.

Keesokan harinya, Arjuna memulai pendakiannya. Kabut tebal semakin menyelimuti jalannya, membuat jarak pandang terbatas. Angin dingin berembus kencang, membawa bisikan-bisikan aneh. Meskipun tidak melihat apa pun, Arjuna mulai merasakan perasaan aneh dan bulu kuduknya merinding. Ia menyadari bahwa ketakutan penduduk desa bukanlah tanpa alasan. Ia melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, setiap langkahnya terasa berat. Ia mulai memahami bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan dengan logika semata.

Pertanyaan 23 ID: #1843

Bagaimana karakter Arjuna dapat disimpulkan dari sikapnya?

BACAAN / STIMULUS

Misteri di Puncak Gunung Angker

Desa Terpencil diselimuti kabut tebal, menyembunyikan sebuah rahasia yang telah turun-temurun diceritakan. Di ujung desa, berdiri tegak Gunung Angker, yang puncaknya selalu tertutup awan gelap. Penduduk desa percaya, gunung itu bersemayam roh-roh kuno yang tidak suka diganggu. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang berani mendekati, apalagi mendaki gunung tersebut. Suasana di desa menjadi hening dan tegang setiap kali ada yang menyebut nama gunung. Mereka hidup dalam ketakutan yang tak terucap.

Suatu hari, datang seorang pemuda bernama Arjuna, seorang petualang dari kota yang terkenal berani. Ia tidak percaya takhayul dan menganggap cerita penduduk desa hanya bualan belaka. "Aku akan mendaki gunung itu dan membuktikan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan," katanya dengan percaya diri. Penduduk desa menatapnya dengan kecemasan dan menasihati untuk tidak melanjutkan niatnya. Namun, Arjuna bergeming. Ia hanya tersenyum tipis dan menyiapkan perbekalan seadanya. Sikap Arjuna menunjukkan bahwa ia adalah orang yang rasional dan tidak mudah terpengaruh.

Keesokan harinya, Arjuna memulai pendakiannya. Kabut tebal semakin menyelimuti jalannya, membuat jarak pandang terbatas. Angin dingin berembus kencang, membawa bisikan-bisikan aneh. Meskipun tidak melihat apa pun, Arjuna mulai merasakan perasaan aneh dan bulu kuduknya merinding. Ia menyadari bahwa ketakutan penduduk desa bukanlah tanpa alasan. Ia melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, setiap langkahnya terasa berat. Ia mulai memahami bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan dengan logika semata.

Pertanyaan 24 ID: #1844

Sikap penduduk desa terhadap kedatangan Arjuna menunjukkan bahwa mereka:

BACAAN / STIMULUS

Misteri di Puncak Gunung Angker

Desa Terpencil diselimuti kabut tebal, menyembunyikan sebuah rahasia yang telah turun-temurun diceritakan. Di ujung desa, berdiri tegak Gunung Angker, yang puncaknya selalu tertutup awan gelap. Penduduk desa percaya, gunung itu bersemayam roh-roh kuno yang tidak suka diganggu. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang berani mendekati, apalagi mendaki gunung tersebut. Suasana di desa menjadi hening dan tegang setiap kali ada yang menyebut nama gunung. Mereka hidup dalam ketakutan yang tak terucap.

Suatu hari, datang seorang pemuda bernama Arjuna, seorang petualang dari kota yang terkenal berani. Ia tidak percaya takhayul dan menganggap cerita penduduk desa hanya bualan belaka. "Aku akan mendaki gunung itu dan membuktikan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan," katanya dengan percaya diri. Penduduk desa menatapnya dengan kecemasan dan menasihati untuk tidak melanjutkan niatnya. Namun, Arjuna bergeming. Ia hanya tersenyum tipis dan menyiapkan perbekalan seadanya. Sikap Arjuna menunjukkan bahwa ia adalah orang yang rasional dan tidak mudah terpengaruh.

Keesokan harinya, Arjuna memulai pendakiannya. Kabut tebal semakin menyelimuti jalannya, membuat jarak pandang terbatas. Angin dingin berembus kencang, membawa bisikan-bisikan aneh. Meskipun tidak melihat apa pun, Arjuna mulai merasakan perasaan aneh dan bulu kuduknya merinding. Ia menyadari bahwa ketakutan penduduk desa bukanlah tanpa alasan. Ia melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, setiap langkahnya terasa berat. Ia mulai memahami bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan dengan logika semata.

Pertanyaan 25 ID: #1845

Mengapa Arjuna mulai merasakan perasaan aneh saat mendaki?

BACAAN / STIMULUS

Misteri di Puncak Gunung Angker

Desa Terpencil diselimuti kabut tebal, menyembunyikan sebuah rahasia yang telah turun-temurun diceritakan. Di ujung desa, berdiri tegak Gunung Angker, yang puncaknya selalu tertutup awan gelap. Penduduk desa percaya, gunung itu bersemayam roh-roh kuno yang tidak suka diganggu. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang berani mendekati, apalagi mendaki gunung tersebut. Suasana di desa menjadi hening dan tegang setiap kali ada yang menyebut nama gunung. Mereka hidup dalam ketakutan yang tak terucap.

Suatu hari, datang seorang pemuda bernama Arjuna, seorang petualang dari kota yang terkenal berani. Ia tidak percaya takhayul dan menganggap cerita penduduk desa hanya bualan belaka. "Aku akan mendaki gunung itu dan membuktikan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan," katanya dengan percaya diri. Penduduk desa menatapnya dengan kecemasan dan menasihati untuk tidak melanjutkan niatnya. Namun, Arjuna bergeming. Ia hanya tersenyum tipis dan menyiapkan perbekalan seadanya. Sikap Arjuna menunjukkan bahwa ia adalah orang yang rasional dan tidak mudah terpengaruh.

Keesokan harinya, Arjuna memulai pendakiannya. Kabut tebal semakin menyelimuti jalannya, membuat jarak pandang terbatas. Angin dingin berembus kencang, membawa bisikan-bisikan aneh. Meskipun tidak melihat apa pun, Arjuna mulai merasakan perasaan aneh dan bulu kuduknya merinding. Ia menyadari bahwa ketakutan penduduk desa bukanlah tanpa alasan. Ia melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, setiap langkahnya terasa berat. Ia mulai memahami bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan dengan logika semata.

Pertanyaan 26 ID: #1846

Sikap Arjuna di paragraf ketiga menunjukkan perubahan pandangan, yaitu ia mulai:

BACAAN / STIMULUS

Misteri di Puncak Gunung Angker

Desa Terpencil diselimuti kabut tebal, menyembunyikan sebuah rahasia yang telah turun-temurun diceritakan. Di ujung desa, berdiri tegak Gunung Angker, yang puncaknya selalu tertutup awan gelap. Penduduk desa percaya, gunung itu bersemayam roh-roh kuno yang tidak suka diganggu. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang berani mendekati, apalagi mendaki gunung tersebut. Suasana di desa menjadi hening dan tegang setiap kali ada yang menyebut nama gunung. Mereka hidup dalam ketakutan yang tak terucap.

Suatu hari, datang seorang pemuda bernama Arjuna, seorang petualang dari kota yang terkenal berani. Ia tidak percaya takhayul dan menganggap cerita penduduk desa hanya bualan belaka. "Aku akan mendaki gunung itu dan membuktikan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan," katanya dengan percaya diri. Penduduk desa menatapnya dengan kecemasan dan menasihati untuk tidak melanjutkan niatnya. Namun, Arjuna bergeming. Ia hanya tersenyum tipis dan menyiapkan perbekalan seadanya. Sikap Arjuna menunjukkan bahwa ia adalah orang yang rasional dan tidak mudah terpengaruh.

Keesokan harinya, Arjuna memulai pendakiannya. Kabut tebal semakin menyelimuti jalannya, membuat jarak pandang terbatas. Angin dingin berembus kencang, membawa bisikan-bisikan aneh. Meskipun tidak melihat apa pun, Arjuna mulai merasakan perasaan aneh dan bulu kuduknya merinding. Ia menyadari bahwa ketakutan penduduk desa bukanlah tanpa alasan. Ia melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, setiap langkahnya terasa berat. Ia mulai memahami bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan dengan logika semata.

Pertanyaan 27 ID: #1847

Apa saja yang dapat disimpulkan tentang suasana di sekitar Gunung Angker?

BACAAN / STIMULUS

Misteri di Puncak Gunung Angker

Desa Terpencil diselimuti kabut tebal, menyembunyikan sebuah rahasia yang telah turun-temurun diceritakan. Di ujung desa, berdiri tegak Gunung Angker, yang puncaknya selalu tertutup awan gelap. Penduduk desa percaya, gunung itu bersemayam roh-roh kuno yang tidak suka diganggu. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang berani mendekati, apalagi mendaki gunung tersebut. Suasana di desa menjadi hening dan tegang setiap kali ada yang menyebut nama gunung. Mereka hidup dalam ketakutan yang tak terucap.

Suatu hari, datang seorang pemuda bernama Arjuna, seorang petualang dari kota yang terkenal berani. Ia tidak percaya takhayul dan menganggap cerita penduduk desa hanya bualan belaka. "Aku akan mendaki gunung itu dan membuktikan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan," katanya dengan percaya diri. Penduduk desa menatapnya dengan kecemasan dan menasihati untuk tidak melanjutkan niatnya. Namun, Arjuna bergeming. Ia hanya tersenyum tipis dan menyiapkan perbekalan seadanya. Sikap Arjuna menunjukkan bahwa ia adalah orang yang rasional dan tidak mudah terpengaruh.

Keesokan harinya, Arjuna memulai pendakiannya. Kabut tebal semakin menyelimuti jalannya, membuat jarak pandang terbatas. Angin dingin berembus kencang, membawa bisikan-bisikan aneh. Meskipun tidak melihat apa pun, Arjuna mulai merasakan perasaan aneh dan bulu kuduknya merinding. Ia menyadari bahwa ketakutan penduduk desa bukanlah tanpa alasan. Ia melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, setiap langkahnya terasa berat. Ia mulai memahami bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan dengan logika semata.

Pertanyaan 28 ID: #1848

Nilai moral apa yang dapat disimpulkan dari cerita tersebut?

BACAAN / STIMULUS

Misteri di Puncak Gunung Angker

Desa Terpencil diselimuti kabut tebal, menyembunyikan sebuah rahasia yang telah turun-temurun diceritakan. Di ujung desa, berdiri tegak Gunung Angker, yang puncaknya selalu tertutup awan gelap. Penduduk desa percaya, gunung itu bersemayam roh-roh kuno yang tidak suka diganggu. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang berani mendekati, apalagi mendaki gunung tersebut. Suasana di desa menjadi hening dan tegang setiap kali ada yang menyebut nama gunung. Mereka hidup dalam ketakutan yang tak terucap.

Suatu hari, datang seorang pemuda bernama Arjuna, seorang petualang dari kota yang terkenal berani. Ia tidak percaya takhayul dan menganggap cerita penduduk desa hanya bualan belaka. "Aku akan mendaki gunung itu dan membuktikan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan," katanya dengan percaya diri. Penduduk desa menatapnya dengan kecemasan dan menasihati untuk tidak melanjutkan niatnya. Namun, Arjuna bergeming. Ia hanya tersenyum tipis dan menyiapkan perbekalan seadanya. Sikap Arjuna menunjukkan bahwa ia adalah orang yang rasional dan tidak mudah terpengaruh.

Keesokan harinya, Arjuna memulai pendakiannya. Kabut tebal semakin menyelimuti jalannya, membuat jarak pandang terbatas. Angin dingin berembus kencang, membawa bisikan-bisikan aneh. Meskipun tidak melihat apa pun, Arjuna mulai merasakan perasaan aneh dan bulu kuduknya merinding. Ia menyadari bahwa ketakutan penduduk desa bukanlah tanpa alasan. Ia melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, setiap langkahnya terasa berat. Ia mulai memahami bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan dengan logika semata.

Pertanyaan 29 ID: #1849

Peristiwa apa yang menyebabkan Arjuna mulai ragu dengan keyakinan awalnya?

BACAAN / STIMULUS

Misteri di Puncak Gunung Angker

Desa Terpencil diselimuti kabut tebal, menyembunyikan sebuah rahasia yang telah turun-temurun diceritakan. Di ujung desa, berdiri tegak Gunung Angker, yang puncaknya selalu tertutup awan gelap. Penduduk desa percaya, gunung itu bersemayam roh-roh kuno yang tidak suka diganggu. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang berani mendekati, apalagi mendaki gunung tersebut. Suasana di desa menjadi hening dan tegang setiap kali ada yang menyebut nama gunung. Mereka hidup dalam ketakutan yang tak terucap.

Suatu hari, datang seorang pemuda bernama Arjuna, seorang petualang dari kota yang terkenal berani. Ia tidak percaya takhayul dan menganggap cerita penduduk desa hanya bualan belaka. "Aku akan mendaki gunung itu dan membuktikan bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan," katanya dengan percaya diri. Penduduk desa menatapnya dengan kecemasan dan menasihati untuk tidak melanjutkan niatnya. Namun, Arjuna bergeming. Ia hanya tersenyum tipis dan menyiapkan perbekalan seadanya. Sikap Arjuna menunjukkan bahwa ia adalah orang yang rasional dan tidak mudah terpengaruh.

Keesokan harinya, Arjuna memulai pendakiannya. Kabut tebal semakin menyelimuti jalannya, membuat jarak pandang terbatas. Angin dingin berembus kencang, membawa bisikan-bisikan aneh. Meskipun tidak melihat apa pun, Arjuna mulai merasakan perasaan aneh dan bulu kuduknya merinding. Ia menyadari bahwa ketakutan penduduk desa bukanlah tanpa alasan. Ia melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, setiap langkahnya terasa berat. Ia mulai memahami bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan dengan logika semata.

Pertanyaan 30 ID: #1850

Bagaimana ide pokok paragraf ketiga dapat disimpulkan?