Strategi Ekstraksi Informasi Krusial dalam Pengembangan Karya Literasi
Di bawah naungan awan kelabu yang menumpahkan presipitasi deras, atmosfer di pinggiran kota terasa hening dan mencekam. Jalanan yang basah memantulkan pendar lampu kendaraan yang sesekali membelah kabut tipis. Di tengah kesunyian tersebut, seorang remaja bernama Rina tampak terpaku di depan meja belajarnya, tenggelam dalam konsentrasi tinggi. Ia sedang dalam misi krusial: merampungkan naskah untuk lomba menulis cerita pendek tingkat nasional. Ini adalah manifestasi keberanian pertamanya setelah bertahun-tahun hanya menyimpan karyanya dalam buku harian pribadi.
Inspirasi Rina bermula beberapa hari sebelumnya, ketika Bu Ratna, guru Bahasa Indonesia yang jeli, mengapresiasi cerpennya di majalah dinding sekolah. "Teks karyamu memiliki kedalaman emosional dan struktur narasi yang kuat. Jangan memendam bakatmu," pesan Bu Ratna yang menjadi katalisator semangat Rina. Sejak saat itu, Rina melakukan riset literasi dengan membaca berbagai antologi cerpen pemenang penghargaan dan menyusun kerangka cerita yang sistematis.
Dalam fase kreatif yang melelahkan ini, Dita, sahabat karibnya, berperan sebagai pembaca pertama yang kritis. Dita memberikan masukan konstruktif mengenai alur cerita dan pengembangan karakter (penokohan) agar lebih dinamis. Sementara itu, Bu Ratna tetap mendampingi dalam aspek teknis, membantu memperbaiki ejaan serta pemilihan diksi yang lebih elegan. Meskipun sempat didera kebuntuan ide (writer’s block) dan rasa ragu akan kualitas tulisannya, dukungan kolektif dari lingkungan sekitarnya menjadi pendorong utama untuk tetap bertahan.
Malam sebelum tenggat waktu berakhir, Rina mengirimkan naskahnya secara daring dengan perasaan campur aduk. Namun, keraguan itu sirna ketika ia menerima panggilan resmi yang mengonfirmasi bahwa ia masuk dalam 10 besar nasional. Perjalanan Rina membuktikan bahwa keberanian untuk mencoba dan ketekunan dalam merevisi karya adalah kunci utama dalam meraih prestasi di bidang literasi.